BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kelainan Dan Penyakit Pada Sistem Pernapasan Alat-alat pernapasan merupakan
organ tubuh yang sangat penting. Jika alat ini terganggu karena penyakit atau
kelainan maka proses pernapasan akan terganggu, bahkan dapat menyebabkan
kematian.Berikut akan diuraikan beberapa macam gangguan yang umum terjadi pada
saluran pernapasan manusia.
Efusi pleura merupakan pengumpulan
cairan dalam spasium pleural yang terletak di antara permukaan viseral dan
parietal. Efusi pleura adalah proses penyakit primer yang jarang terjadi tetapi
biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Efusi
pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif, tuberkulosis,
pneumoniainfeksi paru (terutama virus), sindrom nefrotik, penyakit jaringan
ikat, dan tumor neoplasik. Karsinoma bronkogenik adalah malignasi yang paling
umum berkaitan dengan efusi pleura. Ukuran efusi akan menentukan
keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak napas.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi efusi pleura ?
2. Apakah etiologi dari efusi pleura ?
3. Bagaimana patofisiologi efusi pleura ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari efusi pleura ?
5. Bagaimana pemeriksaan diasnogtik dari efusi pleura
?
6. Bagaimana penaatalaksanaan efusi pleura ?
7. Bagaimana asuhan keperawatan paada pasien dengan
efusi pleura ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apakah definisi efusi pleura
2. Untuk mengetahui apakah etiologi dari efusi pleura
3. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi efusi
pleura
4. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari
efusi pleura
5. untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diasnogtik
dari efusi pleura
6. untuk mengetahui bagaimana penaatalaksanaan efusi
pleura
7. untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan paada
pasien dengan efusi pleura
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini agar kita
mengetahui lebih banyak tentang efusi pleura.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Efusi pleura adalah penumpukan
cairan di dalam ruang pleura, proses penyakit primer jarang terjadi namun
biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan
jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau
pus.
Efusi pleura adalah pengumpulan
cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan
parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan
penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural
mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang
memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi.
Efusi pleura
adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. Efusi
Pleura diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
a.
Eksudat
Ekstravasasi
cairan ke dalam jaringan atau kavitas.Sebagai akibat inflamasi oleh produk
bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi
virus.Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif.TBC,
pneumonia, infeksi paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis
hepatis, embolisme paru, infeksi parasitik.
b.
Transudat
Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus
dinding kapiler yang utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena
ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik.Transudasi menandakan
kondisi seperti asites, perikarditis.Penyakit gagal jantung kongestik atau
gagal ginjal sehingga terjadi penumpukan cairan.
2.2 Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu
merupakan kelainan sekunder. Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam
yaitu infeksi kuman primer intrapleura dan tumor primer pleura. Timbulnya efusi
pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi :
- Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior.
- Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis.
Secara patologis, efusi pleura disebabkan oleh
keadaan-keadaan:
- Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung)
- Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia)
- Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri)
- Berkurangnya absorbsi limfatik
2.3 Patofisiologi
Didalam rongga pleura terdapat + 5ml
cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan
pleura viseralis.Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena
adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis.Sebagian
cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian
kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan
disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura
disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan
absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan
osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung).Atas dasar
kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura.Transudat
misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan
tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang
menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi.
Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat
jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya
transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya
rendah.
Bakteri TB
¯
Berkembang
biak dalam sitoplasma makrofag
¯
Dibawa
secara hematogen/sistemik
¯
Masuk ke
paru membentuk sarang TB pneumonia kecil / sarang primer
¯
Menjalar ke
bagian pleura
¯
Mengeluarkan
eksudat ® BJ meningkat
¯
Tekanan
osmotik menurun
¯
Penumpukan/efusi pleura
2.4 Manifestasi Klinis
Biasanya manifestasi klinisnya
adalah yang disebabkan penyakit dasar. Pneumonia akan menyebabkan demam,
menggigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi malignan dapat
mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan keparahan gejala.
Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas. Area yang mengandung
cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal atau tidak sama sekali menghasilkan
bunyi datar, pekak saat diperkusi. Egofoni akan terdengar di atas area efusi.
Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan
pleural yang signifikan. Bila terjadi efusi pleural kecil sampai sedang,
dipsnea mungkin saja tidak terdapat. Berikut tanda dan gejala:
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan
sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila
cairan banyak, penderita akan sesak napas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab
seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi
(kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat
terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan
berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian
yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan
vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan
cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang
pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga
Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi
lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6. Pada permulaan dan akhir penyakit
terdengar krepitasi pleura.
Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada,
ultrasound, pemeriksaan fisik, dan torakosentesis. Cairan pleural dianalisis
dengan kultur bakteri, pewarnaan Gram, basil tahan asam (untuk tuberkulosis),
hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa, amylase,
laktat dehidrogenase, protein), analisis sitologi untuk sel-sel malignan, dan
pH. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
1.
Foto Thorax
Permukaan cairan yang terdapat dalam
rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah
lateral lebih tinggi daripada bagian medial. Bila permukaannya horisontal dari
lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat
berasal dari luar atau dari dalam paru-paru sendiri. Kadang-kadang sulit
membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena
radang (pleuritis). Disini perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral
dekubitus.
2.
CT – SCAN
Pada kasus kanker paru Ct Scan
bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam
penentuan staging klinik yang meliputi :
- menentukan adanya tumor dan ukurannya
- mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax, bronkus, mediatinum dan pembuluh darah besar
- mendeteksi adanya efusi pleura
Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat
digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA),
evaluasi pengobatan, mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi.
2.6 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk
menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk
menghilangkan ketidaknyamanan serta dipsnea. Pengobatan spesifik ditujukan pada
penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif, pneumonia, seosis).
Torakosintesis dilakukan untuk
membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis, dan untuk
menghilangkan dipsnea. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi, efusi dapat
terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Torasentesis berulang
menyebabkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumotoraks.
Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan
drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan
untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agens yang secara kimiawi mengiritasi,
seperti tetrasiklin, dimasukkan ke dalam ruang pleura untuk mengobliterasi
ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Setelah agens
dimasukkan, selang dada diklem dan pasien dibantu untuk mengambil berbagai
posisi untuk memastikan penyebaran agens secara merata dan untuk memaksimalkan
kontak agens dengan permukaan pleural. Selang dilepaskan klemnya sesuai yang
diresepkan, dan drainase dada biasanya diteruskan beberapa hari lebih lama
untuk mencegah reakumulasi cairan dan untuk meningkatkan pembentukan adhesi
antara pleural viseralis dan parietalis.
Modalitas penyakit lainnya untuk
efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada, bedah pleurektomi, dan
terapi diuretic. Jika cairan pleura merupakan eksudat, posedur diagnostic yang
lebih jauh dilakukan untuk menetukan penyebabnya. Pengobatan untuk penyebab
primer kemudian dilakukan.
2.7
Asuhan Keperawatan
A.
Format Pengkajian
Isi identitas pasien
1.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien rujukan dari IRD RKZ dengan mula-mula sesak pada bulan Juli 2016. Sesak
hilang timbul, di sertai nyeri dada terutama saat beraktifitas dan terkadang
juga pada malam hari sesak timbul kembali, ketika pasien sesak, pasien mencoba
tidur dengan posisi duduk. Sebelum sesak pasien mengeluh batuk selama kurang
lebih selama satu bulan. Batuk tanpa disertai dahak, dan mengkonsumsi obat
batuk namun tidak sembuh. Karena sesak bertambah hebat, pasien ke UGD RKZ dan
setelah di sana kurang lebih 1,5 jam pasien dirujuk ke poli paru RS. Dr Soebandi
karena keadaan ekonomi.
2.
Riwayat penyakit
dahulu
Agustus 2016
pasien operasi hernia di RKZ (preoperasi melakukan rongent dan di katakan
ada sesuatu di paru-paru). Post operasi disuruh untuk kontrol lagi bulan
Oktober (pasien melakukan foto dada dan CT-scan). Sebelumnya tidak ada batuk
darah, keringat dingin, DM, HT, asma, alergi.
3.
Riwayat penyakit
keluarga
Riwayat penyakit keturunan: keluarga mengaku tidak ada
anggota keluarga yang mengalami sakit seperti pasien. Keluarga mengatakan tidak
ada riwayat keganasan, batuk lama, batuk berdarah, keringat dingin, DM, HT,
asma, alergi.
4.
Perilaku yang
mempengaruhi kesehatan
Pasien tidak
mengkonsumsi alcohol, tetapi pasien adalah perokok berat dimana dapat
mengkonsumsi satu bungkus dalam sehari dan hal itu sudah dilakukan lebih dari
10 tahun. Dalam sehari pasien mampu manghabiskan rokok 1 bungkus bahkan lebih.
Pekerjaan pasien sebagai ekspedisi di perak yang selalu keluar pada malam hari.
Saat pengkajian pasien mengaku tidak mengerti bahwa pola hidupnya dapat
mengakibatkan kanker paru, hal tersebut merupakan kurangnya sumber informasi
bagi pasien.
OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN
FISIK
1. Tanda
Tanda Vital
Kesadaran
compos mentis.
Tanda-tanda
vital:
Suhu:
37˚C
Nadi: 96×/
menit.
RR:30x/menit
TD:140/90mmHg
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
a. Foto Thorax
Hasil torakosintesis sebesar 500cc
Foto Thorak : efusi pleura dekstra
b. CT Scan: Ca
paru dextra
ANALISIS DATA
|
No.
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1
|
S :
Pasien
mengatakan masih berasa mengantuk
O :
–terlihat
lelah
–terlihat
lemas
–matanya ada lingkaran hitam
|
Efusi pleura
↓
Penumpukan cairan dalam rongga pleura
↓
Ekspansasi paru menurun
↓
Sesak nafas
↓
Nyeri dada
↓
Gangguan pola tidur
|
Gangguan
pola tidur
|
|
2.
|
S :
Pasien mengeluh sesak napas saat bernapas.
O :
– RR =
26 x/ menit
– Denyut
nadi = 96 x/menit
– Pasien
bernapas tersengal-sengal cepat, pendek
–ICS
melebar dekstra
–retraksi
(-) otot bantu nafas (-)
–fremitus
raba ↓
–perkusi
redup (D)
|
Efusi Pleura
↓
Akumulasi cairan pada rongga
pleura
↓
Ekspansi paru menurun
↓
RR meningkat
↓
Pola napas tidak efektif
|
Pola napas
tidak efektif.
|
|
3.
|
S :
Pasien
mengeluh tidak nafsu makan
O :
– Pasien tampak lemah.
–Berat
badan menurun
–Pasien tampak tidak punya tenaga
|
Efusi Pleura
↓
Ekspansi paru tidak
maksimal
↓
Sesak nafas
↓
Nafsu makan menurun
↓
Berat badan menurun
↓
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
|
Ketidak
seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
NO.
|
DIAGNOSA
|
TTD
|
|
1.
2.
3.
|
ketidak
efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan di tandai
dengan pola nafas abnormal (mis.,irama, frekuensi,kedalaman).
Gangguan pola tidur berhubungan dengan pola tidur
tidak menyehatkan ditandai dengan pasien mengatakan masih berasa
mengantuk, pasien terlihat lelah, lemas dan matanya ada lingkaran hitam.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan kurang asupan makanan ditandai oleh pasien mengeluh
tidak nafsu makan, pasien tampak lemah, berat badannya menurun dan pasien
tampak tidak punya tenaga.
|
|
INTERVENSI KEPERAWATAN
|
NO.
|
TANGGAL
|
Diagnosa
keperawatan yang ditegakkan
|
NOC
indikator serta skor awal dan skor target
|
Uraian
aktivitas rencana tindakan (NIC)
|
TTD
|
||||||||||||||||||||
|
1.
|
13oktober
2016
|
ketidak
efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan di tandai
dengan pola nafas abnormal (mis.,irama, frekuensi,kedalaman)
Kode
diagnosa keparawatan : 00032
|
Tujuan
: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam, masalah ketidak
efektifan pola nafas teratasi.
Kriteria
hasil :
Status
Pernafasan(0415)
|
Menejemen
jalan nafas (3140)
1.
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi.
2.
Masukkan alat nasopharingeal
airway (MPA) atau oropharingeal airway (OPA), sebagaimana mestinya.
3.
Motivasi pasien untuk bernafas
pelan, dalam, berputar, dan batuk.
4.
Kelola pengobatan aerosol sebagaimana
mestinya.
5.
Monitor status pernafasan dan
oksigenasi, sebagaimana mestinya.
Intervensi
yang digunakan:
1.
Monitor status pernafasan dan
oksigenasi, sebagaimana mestinya.
2.
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi.
3.
Masukkan alat nasopharingeal
airway (MPA) atau oropharingeal airway (OPA), sebagaimana mestinya.
4.
Motivasi pasien untuk bernafas
pelan, dalam, berputar, dan batuk.
5.
Kelola pengobatan aerosol
sebagaimana mestinya.
|
|
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
|
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN DITEGAKKAN/KODE DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
TGL/ JAM
|
IMPLEMENTASI
|
TTD
|
|
1.
|
ketidak
efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan di tandai
dengan pola nafas abnormal (mis.,irama, frekuensi,kedalaman)
Kode diagnosa
keparawatan : 00032
|
|
1.
Memonitor status pernafasan dan oksigenasi,
sebagaimana mestinya.
2.
Memposisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi.
3.
Memasukkan alat nasopharingeal
airway (MPA) atau oropharingeal airway (OPA), sebagaimana mestinya.
4.
Memotivasi pasien untuk bernafas
pelan, dalam, berputar, dan batuk.
5.
Mengelola pengobatan aerosol
sebagaimana mestinya.
|
|
EVALUASI KEPERAWATAN
|
NO
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN DITEGAKKAN/KODE DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
TGL/ JAM
|
EVALUASI
|
TTD
|
||||||||||||||||||||
|
1.
|
ketidak
efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan di tandai
dengan pola nafas abnormal (mis.,irama, frekuensi,kedalaman)
Kode
diagnosa keparawatan : 00032
|
|
S :
Pasien
mengatakan bahwa pasien masih sesak nafas dan batuk
O :
-
TD : 120/80 mmHg
-
N
: 80 x/ mnt
-
R
: 25 x/ mnt
-
SB : 37oC
A :
P :
5.
Kelola pengobatan aerosol
sebagaimana mestinya.
6.
posisikan untuk meringankan sesak nafas.
7.
auskultasi suara nafas, catat yang ventilasinya
menurun atau tidak ada dan adanya suara tambahan.
|
|
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Efusi pleura adalah adanya sejumlah besar cairan yang
abnormal dalam ruang antara pleura viseralis dan parietalis. Bergantung pada
cairan tersebut, efusi dapat berupa transudat(Gagal jantung, sirosis hepatis
dan ascites) atau eksudat (infeksi dan neoplasma) ; 2 jenis ini penyebab dan
strategi tata laksana yang berbeda. Efusi pleura yang disebabkan oleh infeksi
paru disebut infeksi infeksi parapneumonik. Penyebab efusi pleura yang sering
terjadi di negara maju adalah CHF, keganasan, pneumonia bakterialis, dan emboli
paru. Di Negara berkembang, penyebab paling sering adalah tuberculosis.
Pasien dapat datang dengan berbagai keluhan, termasuk
nafas pendek, nyeri dada, atau nyeri bahu. Pemeriksaan fisik dapat normal pada
seorang pasien dengan efusi kecil. Efusi yang lebih besar dapat menyebabkan
penurunan bunyi nafas, pekak pada perfusi, atau friction rub pleura.
3.2 Saran
Efusi pleura merupakan penyakit komplikasi yang sering
muncul pada penderita penyakit paru primer, dengan demikian segera tangani
penyakit primer paru agar efusi yang terjadi tidak terlalu lama menginfeksi
pleura.
DAFTAR PUSTAKA
Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta:Salemba Medika
Price,
Sylvia A. 1995. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit Ed4.
Jakarta: EGC
Tucker,
Susan Martin. 1998. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan, diagnosis,
dan evaluasi. Ed5. Jakarta: EGC
Bulechek, Gloria M., et al. Nursing Interventions Classification (NIC), 6th edition. 2013
Moorhead, Sue, et al. Nursing Outcomes Classification (NOC), 5th edition. 2013
Herdman, T.H., Kamitsuru, Shigemi. Diagnosa Keperawatan 2015-2017 Edisi 10.
Jakarta: EGC
A review of the online casino site at Luckyclub
BalasHapusA trusted online casino with all the 카지노사이트luckclub best games from RTG slots, casino classics and jackpots. Join today to win huge cash prizes at Lucky Club!
Harrah's Las Vegas Casino - MapYRO
BalasHapusCasino at the north end of the Las 전라남도 출장마사지 Vegas 군포 출장샵 Strip and adjacent to LINQ Promenade Las Vegas Boulevard South. 777 Las Vegas Blvd. South, 나주 출장안마 Las Vegas, NV 춘천 출장샵 89109 당진 출장샵